Papandayan Swiss van Java

Papandayan, warisan berharga bagi Tanah Pasundan
Tanah Jawa Barat atau dikenal dengan nama Pasundan memiliki banyak sekali warisan budaya dari para leluhurnya, termasuk gunung - gunung yang berada di daerah tersebut. Gunung - gunung tersebut dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tempat keramat dan wajib dijaga dari kerusakan tangan manusia. Ada banyak sekali gunung yang terkenal di daerah Jawa Barat, seperti gunung Salak, Guntur, Cermai, gunung Gede Pangrango dan Papandayan..nah, diantara deretan nama gunung, saya akan membahas perjalanan saya ke gunung Papandayan melalui Kota Bandung.



Bandung, 02 april 2016 .....
pagi - pagi saya sudah mempersiapkan segala alat - alat dan perlengkapan yang akan saya bawa dalam perjalanan yang cukup jauh nanti. Sebelumnya saya sudah membaca di internet bagaimana dengan medan disana, apa saja yang akan dibawa, dan jarak tempuh. Semua sudah saya persiapkan dengan matang.

perjalanan panjang saya ini akan ditemani oleh partner traveling saya, harusnya saya berangkat dengan 4 orang partner saya yang termasuk adik saya sendiri. Tapi karena dia sedang berhalangan maka kami memutuskan berangkat berdua

Akhirnya sekitar jam 13.00 wib, setelah berdoa kami berangkat dari Kota Bandung menuju Kota Garut dengan menggunakan sepeda motor. Kami hanya membawa 2 tas carrier, yang berisi satu tenda besar, senter, matras, kompor kecil, air minum, makanan instan, obat - obatan, sleeping bag, jaket serta jas hujan.

Perjalanan kami dari kota Bandung sangat lancar dan udaranya sangat sejuk. Kami mengambil rute jalan yang biasa sesuai petunjuk GPS. tetapi ketika kami tiba di daerah pinggiran kota Bandung Ranca ekek, tiba - tiba saja hujan besar datang, kami pun harus berhenti sejenak sambil memantau cuaca beberapa menit kemudian.

kami memutuskan berhenti sambil menunggu hujan reda, karena kami pikir melakukan perjalanan dengan kondisi cuaca seperti ini agak membahayakan. sayangnya hujan tidak reda sama sekali, bahkan semakin deras. Partner saya yang sekaligus navigator tiba - tiba memutuskan melanjutkan perjalanan. Karena waktu sudah sore, agak tanggung rasanya hanya berdiam dijalanan ini. Jas mantel yang saya pakai pun hanya 1, terpaksa partner saya hanya memakai jaket gunung tebal. Saya pikir karena dia laki - laki maka dia bisa bertahan beberapa jam diperjalanan ini.

Perjalanan sudah berjalan hampir 3 jam dan sudah memasuki gerbang Kota Garut namun hujan belum berhenti juga, meskipun tidak selebat tadi. Disini kami sempat berhenti beberapa menit karena daerah yang kami lalui macet dan banjir.

Perjalanan kami lanjut lagi dengan basah kuyup, untungnya kami sempat makan malam dan minum minuman hangat jahe.

Waktu sudah malam dan kami belum sampai di pusat kota Garut, baru pada akhirnya sekitar jam 20.00 wib kami sampai di pusat kota Garut.. Ternyata perjalanan ini cukup jauh juga ya..





Tidak ada Penginapan Pom Bensin pun jadi .....
Sekitar pukul 20.00 wib kami sudah di kota Garut lalu kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat saja, lagipula pakaian dan sepatu kami basah semua.
Berada di suatu tempat yang tidak kita kenal merupakan suatu tantangan. Apalagi ini adalah pengalaman pertama bagi kami kesini. Kami memang pada awalnya bingung harus bermalam dimana, tetapi pada akhirnya kami sadar bahwa Traveller harus bisa survive dimana dan kapan saja mereka berada.
Akhirnya kami berpikir Pom Bensin adalah tempat yang aman untuk kami bermalam sambil mengeringkan pakaian, untungnya pun kami membawa alat - alat seperti matras dan selimut. Kami pun menemukan sebuah tempat seperti aula yang besar.
Di aula ini kami bertemu banyak para pendaki yang akan mendaki gunung Guntur, dan letaknya pun tak jauh dari sini. Jika siang hari pemandangan Gunung Guntur sangat jelas dari Pom bensin ini. Mereka rata - rata datang dari kota yang jauh pula seperti Jakarta, Bekasi, Bandung, bahkan ada yang dari Malang. 
Sambil meluruskan kaki, kami mengeluarkan kompor kecil yg kami bawa untuk membuat kopi. Banyak juga para pendaki yang menghampiri kami, mengajak kami ngobrol atau menawari kami minuman dan makanan. Bahkan diantara mereka ada yang mengajak kami untuk bergabung mendaki gunung Guntur bersama mereka, tapi kami tetap kepada planing awal kami, yaitu mendaki Papandayan.


The Journey must be go on .....
Saat fajar, kami sudah dibangunkan oleh alarm pukul 05.00 dan langsung membereskan alat - alat yang sempat kami keluarkan tadi malam. Pakaian yang kami jemur pun sudah kering. Sebelum melanjutkan perjalanan yang panjang, kami membuat kopi terlebih dahulu untuk merefreshkan kepala dan mata kami. Untungnya, tidur kami pada malam ini cukup nyenyak walaupun udaranya sangat dingin. 
Ketika semuanya sudah siap, kami melanjutkan perjalanan lagi pukul 06.00 agar bisa segera sampai di kaki gunung. Setelah melakukan 1 jam perjalanan akhirnya kami memasuki perkampungan Cisurupan yang merupakan gerbang awal untuk masuk di kaki gunung Papandayan. Disini kami berhenti sejenak untuk sarapan, kami bertemu dengan penduduk lokal yang ramah, rata - rata mereka adalah petani. Suasana di perkampungan disini sangat sejuk, damai, dan tenang. Seolah mereka berbaur dengan alam gunung ini. 
Akhirnya kami tiba di pintu masuk pos pertama registrasi pendaki. Tiket masuknya pun sangat murah hanya Rp. 10.000/orang dan biaya parkir menginapnya Rp. 5000. Setelah regestrasi kami mengecek semua peralatan kami kembali, just make sure our stuff is ready..


Papandayan, 03 April 2016 .....
Gunung Papandayan berada di kabupaten Garut, jawa barat dengan ketinggian 2.665 meter diatas permukaan laut (mdpl). Gunung bertipe Stratovolcano ini menjadi salah satu tempat pendakian yang paling banyak dikunjungi. Selain medannya yang mudah dilalui, Papandayan juga menyimpan landskap yang sangat luar biasa indahnya.
Sebelum meletus pada tahun 2002, Papandayan mempunyai 4 kompleks kawah besar tetapi setelah meletus, kawah ini menjadi areal kawah yang cukup besar. Kawah Papandayan ada 14 yang mengeluarkan asap yang berbeda beda yaitu putih,hijau atau keemasan. Kawah yang terkenal adalah kawah mas, kawah baru, kawah nangklak dan kawah manuk. Beberapa kawah bisa dilihat dari dekat karena tidak berbahaya..tetapi sangat dianjurkan memakai masker ya karena asap belerang disekitarnya berbau sangat tajam dan menyengat.



Hutan mati Papandayan,eksotis namun menyeramkan
Agak menyeramkan memang jika mendengar Hutan mati ini jika belum kesana,tapi ketika perjalanan saya sudah sampai disini saya begitu takjub dan tidak bosan bosannya melihat pemandangan areal hutan mati ini,selepas dari perjalanan areal kawah papandayan menuju pondok salada yang memakan waktu hampir 25 menit, hutan mati ini merupakan oase yang ada digurun pasir menurut saya. Dulunya areal ini adalah vegetasi hutan lebat yang terkena dampak erupsi papandayan. Meskipun terkesan mistis, hutan mati ini adalah spot favorit bagi pendaki untuk mengabadikan gambar.
Untuk menuju ke hutan mati, jalur akan melewati perbukitan pondok salada. Jalurnya bisa lewat melalui kanan atau memutar dari kiri. dari jalur ini kita akan ditemani oleh dominasi pohon Cantigi (pohon yang hanya tumbuh dipuncak, memiliki daun berwarna kemerahan dan buah berwarna hitam
Hutan mati adalah tempat yang khas gunung Papandayan,rasanya kurang kalau belum kesini.
Hutan Mati Papandayan
Pondok Salada, rumah bagi para pendaki
Dari kawasan hutan mati tadi saya bertemu dua orang pendaki dari Bogor, berawal dari obrolan singkat dari pertanyaan kami tentang tempat ini..akhirnya saya bergabung dengan pendaki ini, nampaknya mereka lebih ahli di trek ini. Sebelumnya saya sudah pernah mendaki di Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Sindoro. Dari beberapa gunung yang pernah saya daki, Gunung Papandayan memiliki karakteristik yang unik dari beberapa gunung yang saya daki, Gunung ini memiliki tebing-tebing tinggi yang dikelilingi oleh pecahan kawah pasca erupsi dan vegetasi hutan terbuka yang mengelilingi beberapa kawah kecil sebelum menuju ke pondok salada.
Setelah berputar putar dalam semak-semak hutan pondok saladah, akhirnya kami mencari tempat yang pas untuk berkemah, rupanya kami memilih tempat agak keatas dengan sungai kecil dibelakangnya.. agak lembab sih memang, tapi kami sepakat untuk berkemah disini saja.
Saya lupa ternyata Gunung Papandayan memiliki sumber mata air yang sangat kaya, mata airnya sangat jernih dan mengalir terus meski musim kemarau panjang sekalipun,saya mencoba minum langsung dari mata airnya, sangat sejuk dan segar.
Di pondok Salada ini kita bisa menemukan banyak bunga bunga Edelweis (anaphalis javanica) tetapi tidak seluas Tegal Alun , disinipun banyak warung warung kecil menjual makanan ringan. Saya kaget ternyata dipuncak gunung Papandayan seperti ini ternyata banyak warung warung kecil berdiri, tapi untung indomart disini tidak ada..hahaha
Pondok salada dulunya adalah hamparan tanaman salada (lalap), banyaknya tanaman salada membuat pondok salada menjadi tempat makan kambing hutan dan beberapa hewan lainnya, seiring berjalannya waktu tanaman salada tersebut sedikit-sedikit mulai hilang dan tidak tumbuh lagi, tapi sekarang masih ada sedikit itu juga tanamannya menjadi kerdil.

Bertemu Pendaki dari Bogor 
Gerbang Pondok Selada

Tegal Alun,Surga bagi para pendaki....
Tegal Alun adalah sebuah lapangan luas yang ditumbuhi oleh tanaman Edelweis. Tempat ini berada dipuncak gunung Papandayan dan memiliki luas sekitar 32 hektar. Tegal Alun adalah tempat yang unik karena hampir seluruh tempat ini ditumbuhi tumbuhan edelweis. Meskipun banyak ditumbuhi edelweis kita tetap dilarang memetik bunga abadi ini.
Tegal Alun sering dipenuhi oleh kabut tebal, meskipun tempat ini berupa lapangan yang luas, kita tetap harus berhati hati agar tidak tersesat. Ada bebarapa sumber yang menyebutkan beberapa pendaki hilang dan tersesat ditempat ini, 
Gunung Papandayan adalah gunung yang dikeramatkan oleh warga sekitar, kita harus tetap menghormati serta menjaga nilai-nilai budaya dengan kearifan lokal tempat ini agar tetap terus terjaga untuk generasi selanjutnya.


Nah,, untuk para traveller yang akan melakukan perjalanan pendakian ke gunung Papandayan, sangat disarankan membawa baju tebal dan logistik yang cukup. Mengingat suhu digunung ini sangat dingin, dan yang paling penting adalah jaga kesehatan dan keselamatan.. 
safety first on your ways...







Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

PROLOG

Introduction